Kanker Serviks Masih Menjadi Ancaman bagi Wanita
Kanker serviks merupakan salah satu kanker yang paling sering menyerang wanita di seluruh dunia. Penyakit ini berkembang secara perlahan dan umumnya diawali oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV) tipe risiko tinggi yang menetap selama bertahun-tahun.
Kabar baiknya, kanker serviks termasuk salah satu jenis kanker yang dapat dicegah dan dideteksi sejak dini melalui pemeriksaan skrining. Saat ini terdapat dua metode yang paling banyak digunakan, yaitu Pap Smear dan HPV DNA Test.
Lalu, mana yang lebih akurat? Apakah semua wanita perlu menjalani keduanya? Berikut penjelasannya.
Apa Itu Pap Smear?
Pap Smear adalah pemeriksaan yang bertujuan mendeteksi perubahan atau kelainan sel pada leher rahim (serviks) sebelum berkembang menjadi kanker.
Dokter mengambil sampel sel dari permukaan serviks menggunakan sikat kecil, kemudian sampel diperiksa di laboratorium menggunakan mikroskop.
Kelebihan Pap Smear
- Mendeteksi perubahan sel prakanker.
- Telah digunakan selama puluhan tahun dengan bukti ilmiah yang kuat.
- Biaya relatif lebih terjangkau.
- Efektif menurunkan angka kejadian kanker serviks bila dilakukan secara rutin.
Kekurangan Pap Smear
- Tidak mendeteksi virus HPV secara langsung.
- Hasil bergantung pada kualitas pengambilan sampel dan interpretasi pemeriksa.
- Sensitivitas lebih rendah dibanding HPV DNA Test sehingga masih memungkinkan hasil negatif palsu.
Apa Itu HPV DNA Test?
HPV DNA Test merupakan pemeriksaan molekuler yang mendeteksi keberadaan DNA virus HPV risiko tinggi, terutama tipe yang berhubungan erat dengan kanker serviks seperti HPV 16 dan HPV 18.
Tes ini mampu mengetahui adanya infeksi HPV bahkan sebelum terjadi perubahan sel pada serviks, sehingga risiko dapat dikenali lebih dini.
Kelebihan HPV DNA Test
- Sensitivitas lebih tinggi dibanding Pap Smear.
- Mendeteksi penyebab utama kanker serviks sejak tahap awal.
- Interval skrining dapat lebih panjang bila hasil negatif.
- Membantu mengidentifikasi wanita yang berisiko tinggi mengalami lesi prakanker.
Kekurangan HPV DNA Test
- Biaya biasanya lebih mahal.
- Hasil positif tidak selalu berarti seseorang menderita kanker, karena sebagian besar infeksi HPV akan hilang sendiri dalam 1–2 tahun.
- Hasil positif tetap memerlukan evaluasi lanjutan sesuai rekomendasi dokter.
Perbedaan Pap Smear dan HPV DNA Test
Pap Smear
- Mendeteksi perubahan sel serviks
- Sensitivitas lebih rendah
- Dapat melewatkan lesi awal
- Interval skrining lebih sering
- Biaya relatif lebih ekonomis
HPV DNA Test
- Mendeteksi virus HPV risiko tinggi
- Sensitivitas lebih tinggi
- Lebih baik mendeteksi risiko sejak dini
- Interval skrining dapat lebih panjang bila negatif
- Biaya relatif lebih tinggi
Mana yang Lebih Akurat?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa HPV DNA Test memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dibanding Pap Smear dalam mendeteksi lesi prakanker serviks.
Karena mampu menemukan infeksi HPV sebelum terjadi perubahan sel, metode ini dinilai lebih efektif sebagai skrining primer. WHO kini merekomendasikan HPV DNA sebagai metode skrining utama bila tersedia, sedangkan Pap Smear tetap merupakan pilihan yang sangat baik di fasilitas yang belum menyediakan HPV DNA Test.
Meski demikian, Pap Smear belum ditinggalkan. Pada banyak negara dan rumah sakit, Pap Smear masih digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan HPV DNA Test (co-testing) sesuai usia, faktor risiko, dan kebijakan layanan kesehatan.
Siapa yang Perlu Menjalani Skrining?
Secara umum:
- Wanita usia 21–29 tahun umumnya menjalani Pap Smear secara berkala.
- Wanita usia 30–65 tahun dapat menjalani HPV DNA Test sebagai skrining primer, Pap Smear, atau kombinasi keduanya sesuai rekomendasi dokter dan ketersediaan layanan.
- Wanita dengan kondisi khusus, seperti HIV, riwayat kelainan serviks, atau daya tahan tubuh menurun, mungkin memerlukan jadwal skrining yang berbeda.
Bagaimana Jika Hasil HPV DNA Positif?
Hasil HPV DNA positif bukan berarti pasti terkena kanker serviks.
Sebagian besar infeksi HPV akan sembuh sendiri berkat sistem imun. Namun, bila infeksi menetap—terutama tipe risiko tinggi—dokter dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti Pap Smear, kolposkopi, atau biopsi bila diperlukan.
Cara Menurunkan Risiko Kanker Serviks
Selain menjalani skrining rutin, Anda dapat mengurangi risiko kanker serviks dengan:
- Mendapatkan vaksin HPV sesuai anjuran.
- Tidak merokok.
- Menjalani hubungan seksual yang aman.
- Menjaga daya tahan tubuh.
- Melakukan pemeriksaan ginekologi secara berkala.
Kesimpulan
Pap Smear dan HPV DNA Test memiliki tujuan yang sama, yaitu mendeteksi dini risiko kanker serviks, namun keduanya bekerja dengan cara yang berbeda.
Pap Smear mencari perubahan pada sel serviks, sedangkan HPV DNA Test mendeteksi virus penyebab kanker serviks. Berdasarkan bukti ilmiah terbaru, HPV DNA Test memiliki sensitivitas yang lebih tinggi sehingga kini menjadi metode skrining yang semakin direkomendasikan sebagai pemeriksaan utama bila tersedia. Namun, Pap Smear tetap merupakan pemeriksaan yang penting dan efektif, terutama di daerah dengan keterbatasan fasilitas.
Pilihan pemeriksaan terbaik sebaiknya disesuaikan dengan usia, faktor risiko, riwayat kesehatan, dan rekomendasi dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Deteksi dini tetap menjadi langkah paling efektif untuk mencegah kanker serviks berkembang ke stadium lanjut.
Referensi Jurnal dan Guideline Terbaru (2024–2026)
- World Health Organization (WHO). WHO Guideline for Screening and Treatment of Cervical Pre-cancer Lesions for Cervical Cancer Prevention: Use of Human Papillomavirus (HPV) DNA Genotyping. Geneva: World Health Organization; 2026. Pedoman terbaru ini menegaskan bahwa HPV DNA testing merupakan metode skrining primer yang lebih sensitif dibandingkan sitologi (Pap smear) dalam mendeteksi lesi prakanker serviks.
- World Health Organization (WHO). WHO Guideline for Screening and Treatment of Cervical Pre-cancer Lesions: Use of Dual-Stain Cytology to Triage Women After a Positive HPV Test. Geneva: WHO; 2024. Pedoman ini membahas strategi tindak lanjut setelah hasil HPV positif dan penggunaan pemeriksaan sitologi sebagai triase.
- Wei F, Georges D, Man I, Baussano I, Clifford GM. Causal Attribution of Human Papillomavirus Genotypes to Invasive Cervical Cancer Worldwide: A Systematic Analysis. The Lancet. 2024. Studi sistematik global ini menunjukkan bahwa HPV risiko tinggi—terutama tipe 16 dan 18—bertanggung jawab atas sebagian besar kasus kanker serviks di dunia.
- Liu X, Ning L, Fan W, et al. Electronic Health Interventions and Cervical Cancer Screening: Systematic Review and Meta-analysis. Journal of Medical Internet Research (JMIR). 2024;26:e58066. Artikel ini juga mengulas bahwa WHO merekomendasikan HPV DNA testing sebagai metode skrining utama dan membahas upaya meningkatkan cakupan skrining.
- Arbyn M, Smith SB, Temin S, Sultana F, Castle PE, et al. Berbagai publikasi dan meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa primary HPV testing memiliki sensitivitas lebih tinggi dibanding Pap smear untuk mendeteksi CIN2+ dan CIN3+, meskipun spesifisitasnya sedikit lebih rendah. Temuan ini menjadi dasar perubahan pedoman skrining di banyak negara.
© 2026 DSR / MitraMedic
