Lewati ke konten
Kesehatan Reproduksi Wanita

Mola Hidatidosa (Hamil Anggur): Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, dan Pencegahannya

Tim MitraMedic 4 Agu 2026

Mola hidatidosa, atau yang lebih dikenal sebagai hamil anggur, merupakan salah satu 7 bentuk kehamilan abnormal yang terjadi akibat kelainan proses pembuahan.

Pada kondisi ini, jaringan yang seharusnya berkembang menjadi plasenta justru tumbuh secara tidak normal membentuk gelembung-gelembung berisi cairan menyerupai buah anggur. Kehamilan ini tidak dapat berkembang menjadi kehamilan normal dan memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi serius.

Apa Itu Mola Hidatidosa?

Mola hidatidosa adalah bagian dari Penyakit Trofoblas Gestasional (Gestational Trophoblastic Disease/GTD). Kondisi ini terjadi akibat kelainan kromosom saat pembuahan sehingga pertumbuhan jaringan trofoblas (cikal bakal plasenta) menjadi abnormal.

Terdapat 2 jenis mola hidatidosa:

1. Mola Hidatidosa Lengkap (Complete Mole)

  • Tidak terdapat janin.
  • Seluruh jaringan plasenta berkembang secara abnormal.
  • Risiko berkembang menjadi keganasan lebih tinggi (sekitar 15–20%).

2. Mola Hidatidosa Parsial (Partial Mole)

  • Janin dapat terbentuk tetapi mengalami kelainan berat dan tidak dapat bertahan hidup.
  • Sebagian jaringan plasenta normal, sebagian lagi abnormal.
  • Risiko menjadi keganasan lebih rendah, sekitar 1–5%.

Penyebab Mola Hidatidosa

Penyebab utama adalah kelainan genetik saat pembuahan.

Pada mola lengkap:

Sel telur kosong dibuahi oleh satu sperma yang menggandakan kromosomnya atau oleh dua sperma.

Pada mola parsial:

Sel telur normal dibuahi oleh dua sperma sehingga jumlah kromosom menjadi berlebih (triploidi).

Mola Hidatitosa

Faktor Risiko Terjadinya Mola Hidatitosa

Risiko mola hidatidosa meningkat pada:

- Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35–40 tahun.

- Riwayat pernah mengalami mola hidatidosa.

- Riwayat keguguran berulang.

- Defisiensi vitamin A atau karoten diduga berperan pada beberapa populasi.

Gejala Mola Hidatidosa

Pada awal kehamilan, gejalanya sering menyerupai kehamilan normal. Namun, beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:

- Perdarahan dari vagina pada trimester pertama.

- Mual dan muntah yang sangat berat.

- Rahim lebih besar daripada usia kehamilan.

- Tidak terdengar denyut jantung janin.

- Keluar jaringan menyerupai buah anggur dari vagina.

- Tekanan darah tinggi atau preeklamsia sebelum usia kehamilan 20 minggu.

- Kadar hormon β-hCG yang sangat tinggi.

Bagaimana Diagnosis Dilakukan

Dokter akan menegakkan diagnosis melalui:

- USG kehamilan, yang pada mola lengkap dapat menunjukkan gambaran khas seperti "badai salju (snowstorm appearance)" tanpa janin.

- Pemeriksaan darah β-hCG, yang umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan kehamilan normal.

- Pemeriksaan jaringan (histopatologi) setelah tindakan pengeluaran jaringan dari rahim untuk memastikan diagnosis.

Pengobatan Mola Hidatidosa

Penanganan utama adalah evakuasi isi rahim, umumnya menggunakan vakum aspirasi (suction evacuation).

Pada kondisi tertentu, histerektomi dapat dipertimbangkan pada wanita yang tidak lagi menginginkan kehamilan. Namun, tindakan ini tidak selalu menghilangkan risiko penyakit trofoblas menetap sehingga pemantauan tetap diperlukan.

Pentingnya Pemantauan Setelah Tindakan

Setelah jaringan mola dikeluarkan, pasien tidak langsung dinyatakan sembuh.

Pemantauan dilakukan dengan:

- Pemeriksaan kadar β-hCG secara berkala hingga kembali normal.

- Menggunakan kontrasepsi selama masa pemantauan agar hasil pemeriksaan tidak terganggu oleh kehamilan baru.

- Segera berkonsultasi jika kadar β-hCG tidak turun atau kembali meningkat karena dapat menandakan Neoplasia Trofoblas Gestasional (GTN) yang memerlukan terapi lebih lanjut.

Apakah Bisa Hamil Lagi?

Ya. Sebagian besar wanita yang pernah mengalami mola hidatidosa dapat menjalani kehamilan normal di kemudian hari setelah masa pemantauan selesai dan dokter menyatakan aman untuk hamil kembali.

Risiko kekambuhan sekitar 1–2%, sehingga pada kehamilan berikutnya dianjurkan melakukan pemeriksaan USG lebih awal.

Cara Mencegah Terjadinya Mola Hidatitosa

Karena disebabkan oleh kelainan genetik saat pembuahan, mola hidatidosa tidak dapat dicegah sepenuhnya. Namun, risiko komplikasi dapat dikurangi dengan:

- Melakukan pemeriksaan kehamilan sejak dini.

- Segera memeriksakan diri bila terjadi perdarahan pada awal kehamilan.

- Mengikuti seluruh jadwal kontrol setelah tindakan evakuasi.

- Berkonsultasi sebelum merencanakan kehamilan berikutnya jika memiliki riwayat mola hidatidosa.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera cari pertolongan medis apabila ibu hamil mengalami:

- Perdarahan dari vagina.

- Nyeri perut hebat.

- Mual muntah yang sangat berat.

- Keluar jaringan seperti buah anggur.

- Pusing berat atau pingsan.

Kesimpulan

Mola hidatidosa merupakan kehamilan abnormal yang memerlukan diagnosis dan penanganan segera. Berkat kemajuan teknologi USG dan pemeriksaan β-hCG, sebagian besar kasus kini dapat dideteksi lebih dini sehingga komplikasi dapat diminimalkan. Kunci keberhasilan terapi bukan hanya tindakan evakuasi rahim, tetapi juga pemantauan β-hCG secara teratur hingga dinyatakan sembuh, sehingga bila terjadi penyakit trofoblas gestasional, pengobatan dapat diberikan sedini mungkin.

Referensi:

- Braga A, Berkowitz RS, Horowitz NS. Etiology, Natural History, and Management of Recent Advances in Molar Pregnancy. Obstetrics & Gynecology. 2025.

- Ngan HYS, et al. Diagnosis and Management of Gestational Trophoblastic Disease: 2025 Update. FIGO/International Journal of Gynecology & Obstetrics.

- Lurain JR. Gestational Trophoblastic Disease: Current Evaluation and Management. Obstetrics & Gynecology. 2021.

- BMJ Best Practice. Molar Pregnancies. Evidence reviewed 2026.

- Seckl MJ, et al. Management of Gestational Trophoblastic Disease. BJOG. 2021.

© 2026 DSR / MitraMedic

Kembali ke Artikel
Konsultasi