Lewati ke konten
Kesehatan Wanita & Anak

Keputihan: Normal atau Berbahaya? Kenali Perbedaannya Sebelum Terlambat

Tim MitraMedic 20 Jul 2026

Keputihan: Normal atau Berbahaya?

Keputihan merupakan salah satu kondisi yang paling sering dialami oleh wanita dari masa pubertas hingga menopause. Sayangnya, masih banyak yang menganggap semua keputihan adalah tanda penyakit. Padahal, tidak semua keputihan berbahaya. Sebagian besar justru merupakan proses alami tubuh untuk menjaga kesehatan vagina.

Yang perlu diwaspadai adalah apabila keputihan mengalami perubahan warna, bau, jumlah, atau disertai keluhan lain seperti gatal, nyeri, dan perdarahan.

Artikel ini membahas secara lengkap mengenai perbedaan keputihan normal dan berbahaya berdasarkan rekomendasi dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), World Health Organization (WHO), dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Apa Itu Keputihan?

Keputihan (vaginal discharge) adalah cairan yang diproduksi secara alami oleh kelenjar pada vagina dan leher rahim.

Fungsinya antara lain:

- Membersihkan vagina dari sel-sel mati

- Menjaga keseimbangan bakteri baik (Lactobacillus)

- Menjaga kelembapan vagina

- Melindungi dari infeksi

- Membantu menjaga pH vagina tetap normal

Karena itu, keputihan adalah bagian dari mekanisme pertahanan alami tubuh.

Ciri-Ciri Keputihan Normal

Keputihan normal biasanya memiliki karakteristik berikut:

✅ Berwarna bening hingga putih susu

✅ Tidak berbau menyengat

✅ Tidak menyebabkan gatal

✅ Tidak menimbulkan rasa nyeri

✅ Tidak menyebabkan luka pada vagina

Jumlahnya dapat berubah sesuai kondisi tubuh, misalnya:

- Menjelang ovulasi

- Sebelum menstruasi

- Saat hamil

- Saat menyusui

- Ketika mengalami rangsangan seksual

- Saat menggunakan kontrasepsi hormonal

- Semua kondisi tersebut masih dianggap fisiologis atau normal.

Penyebab keputihan kondisi warna keputihan

Kapan Keputihan Menjadi Berbahaya?

Segera waspadai apabila keputihan disertai:

- Bau amis atau busuk

- Warna kuning pekat

- Warna hijau

- Abu-abu

- Berbusa

- Menggumpal seperti susu basi

- Gatal hebat

- Nyeri saat buang air kecil

- Nyeri saat berhubungan seksual

- Demam

- Nyeri perut bawah Keluar darah di luar jadwal haid

- Gejala tersebut dapat mengarah pada infeksi ataupun penyakit lain yang membutuhkan pemeriksaan dokter.

Penyebab Keputihan Berbahaya

1. Bacterial Vaginosis (BV)

Merupakan penyebab tersering keputihan abnormal pada wanita usia reproduksi.

Gejala:

- Bau amis yang kuat

- Warna putih keabu-abuan

- Cair

- Bau semakin kuat setelah berhubungan seksual

BV terjadi karena ketidakseimbangan bakteri baik di vagina.

2. Infeksi Jamur (Candida)

Gejala khas:

- Keputihan putih menggumpal seperti keju

- Gatal hebat

- Kemerahan

- Rasa terbakar

Biasanya dipicu oleh:

- Diabetes

- Penggunaan antibiotik

- Kehamilan

- Daya tahan tubuh menurun.

3. Trikomoniasis

Merupakan infeksi menular seksual akibat parasit.

Gejala:

- Keputihan kuning kehijauan

- Berbusa

- Bau tidak sedap

- Nyeri saat BAK

- Gatal

- Pasangan seksual juga perlu mendapatkan terapi bila diagnosis ditegakkan.

4. Gonore dan Klamidia

Sering kali tidak bergejala, tetapi dapat menyebabkan:

- Keputihan bernanah

- Nyeri panggul

- Perdarahan setelah hubungan seksual

- Bila tidak diobati dapat berkembang menjadi penyakit radang panggul (PID) dan meningkatkan risiko infertilitas.

Apakah Warna Keputihan Bisa Menentukan Penyakit?

Secara umum:

Warna dan kemungkinan terkait cairan keputihan

  • Bening; Normal
  • Putih susu; Normal
  • Putih menggumpal; Infeksi jamur
  • Abu-abu; Bacterial vaginosis
  • Kuning kehijauan; Trikomoniasis atau infeksi bakteri
  • Cokelat; Darah lama, menjelang atau setelah haid
  • Merah; Menstruasi atau perdarahan abnormal yang perlu dievaluasi

Warna saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis. Dokter biasanya mempertimbangkan gejala, pemeriksaan fisik, pH vagina, dan pemeriksaan laboratorium bila diperlukan.

Faktor Risiko Terjadinya Keputihan Abnormal

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko antara lain:

- Kebersihan area genital yang kurang tepat

- Penggunaan cairan pembersih vagina (douching)

- Berganti pasangan seksual

- Penggunaan antibiotik jangka panjang

- Diabetes yang tidak terkontrol

- Kehamilan

- Penurunan daya tahan tubuh

- Pakaian dalam terlalu ketat dan lembab

Cara Mencegah Keputihan Berbahaya

Beberapa langkah sederhana dapat membantu menjaga kesehatan vagina:

- Bersihkan area genital dengan air bersih.

- Hindari penggunaan sabun berpewangi atau douching.

- Gunakan pakaian dalam berbahan katun.

- Ganti pakaian dalam jika lembap.

- Keringkan area genital setelah BAK atau BAB.

- Bersihkan dari arah depan ke belakang.

- Terapkan hubungan seksual yang aman.

- Kendalikan kadar gula darah pada penderita diabetes.

- Jangan mengonsumsi antibiotik tanpa anjuran dokter.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan apabila:

- Keputihan berubah warna menjadi hijau, kuning pekat, atau abu-abu.

- Berbau amis atau busuk.

- Disertai gatal hebat.

- Nyeri saat berhubungan seksual.

- Nyeri perut bawah.

- Demam.

- Keluar darah setelah berhubungan seksual.

- Keputihan tidak membaik setelah beberapa hari.

- Terjadi saat kehamilan disertai bau, nyeri, atau gejala infeksi.

Kesimpulan

Keputihan merupakan kondisi yang normal selama tidak disertai perubahan warna, bau, atau keluhan lain. Sebaliknya, keputihan yang berubah menjadi berbau, berwarna tidak biasa, menyebabkan gatal, nyeri, atau disertai demam perlu segera diperiksakan karena dapat menandakan infeksi atau penyakit lain yang memerlukan penanganan.

Mengenali karakteristik keputihan normal dan abnormal merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan reproduksi serta mencegah komplikasi seperti penyakit radang panggul, infertilitas, maupun gangguan kehamilan.

Referensi:

- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Vulvovaginal Health.

- ACOG. Is It Normal to Have Vaginal Discharge?

- World Health Organization (WHO). Guidelines for the Management of Symptomatic Sexually Transmitted Infections – Vaginal Discharge Syndrome (2021).

- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). STI Treatment Guidelines: Vaginal Discharge.

- World Health Organization (WHO). Bacterial Vaginosis Fact Sheet (2025

© 2026 DSR / MitraMedic

Kembali ke Artikel
Konsultasi