Lewati ke konten
Kesehatan Wanita & Anak

Dispareunia: Nyeri Saat Berhubungan Intim yang Dapat Memengaruhi Kesehatan dan Keharmonisan Pasangan

Tim MitraMedic 21 Jul 2026

Hubungan intim seharusnya menjadi momen yang nyaman dan menyenangkan bagi pasangan. Namun, bagi sebagian wanita, aktivitas ini justru menimbulkan rasa nyeri yang mengganggu. Kondisi tersebut dikenal sebagai dispareunia (dyspareunia), yaitu nyeri yang terjadi sebelum, selama, atau setelah berhubungan seksual.

Dispareunia bukanlah hal yang normal dan tidak boleh dianggap sepele karena dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan pada organ reproduksi maupun kondisi psikologis.

Apa Itu Dispareunia?

Dispareunia adalah nyeri berulang atau menetap yang muncul saat penetrasi atau setelah berhubungan seksual. Nyeri dapat dirasakan pada area pintu masuk vagina, di dalam panggul, atau hingga perut bagian bawah. Kondisi ini dapat dialami oleh wanita dari berbagai usia, meskipun lebih sering terjadi pada wanita menopause, setelah melahirkan, atau pada penderita penyakit ginekologi tertentu.

Gejala Dispareunia

Gejala yang sering dikeluhkan meliputi:

  • Nyeri tajam atau seperti terbakar saat penetrasi.
  • Nyeri yang terasa dalam di area panggul saat berhubungan.
  • Sensasi berdenyut atau kram setelah berhubungan intim.
  • Rasa takut atau cemas setiap kali akan berhubungan seksual.
  • Penurunan gairah seksual akibat rasa nyeri yang berulang.
  • Apabila keluhan berlangsung lebih dari beberapa minggu atau semakin berat, pemeriksaan oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi sangat dianjurkan.

Penyebab dispareunia

Penyebab Dispareunia

Dispareunia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:

1.Kurangnya Pelumasan Vagina

Kondisi ini dapat terjadi akibat kurangnya rangsangan seksual, menyusui, menopause, atau penggunaan obat-obatan tertentu sehingga vagina menjadi kering.

2.Infeksi pada Organ Intim

Infeksi jamur, bakteri, maupun infeksi menular seksual dapat menyebabkan peradangan dan nyeri saat berhubungan.

3.Endometriosis

Jaringan yang menyerupai lapisan rahim tumbuh di luar rahim sehingga menimbulkan nyeri panggul kronis dan nyeri saat berhubungan intim.

4.Kista Ovarium atau Mioma Uteri

Kedua kondisi ini dapat menyebabkan tekanan pada organ panggul sehingga hubungan seksual terasa nyeri.

5.Vaginismus

Otot dasar panggul berkontraksi secara tidak sadar sehingga penetrasi menjadi sulit atau sangat menyakitkan.

6.Perubahan Hormon

Penurunan kadar estrogen pada menopause menyebabkan vagina menjadi lebih tipis, kering, dan kurang elastis.

7.Faktor Psikologis

Stres, kecemasan, trauma seksual, depresi, maupun masalah dalam hubungan dapat memperberat keluhan dispareunia.

Faktor Risiko Dispaurina

Risiko mengalami dispareunia lebih tinggi pada wanita yang:

- Menopause.

- Baru melahirkan.

- Menjalani operasi panggul.

- Mengalami endometriosis.

- Memiliki infeksi vagina berulang.

- Mengalami gangguan kecemasan atau depresi.

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis Disparnia ?

Dokter akan melakukan:

- Wawancara mengenai lokasi dan karakteristik nyeri.

- Pemeriksaan panggul.

- Pemeriksaan vagina dan serviks.

- USG transvaginal bila dicurigai adanya kelainan pada rahim atau ovarium.

- Pemeriksaan laboratorium bila dicurigai infeksi.

- Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh karena penyebab dispareunia sering kali lebih dari satu.

Penanganan Dispareunia

Terapi disesuaikan dengan penyebabnya, antara lain:

- Menggunakan pelumas berbahan dasar air untuk mengurangi gesekan.

- Mengobati infeksi dengan antibiotik atau antijamur bila diperlukan.

- Terapi hormon estrogen lokal pada wanita menopause sesuai indikasi.

- Fisioterapi dasar panggul untuk mengatasi ketegangan otot.

- Konseling psikologis atau terapi seksual bila terdapat faktor emosional.

- Operasi apabila disebabkan oleh endometriosis, mioma, atau kista ovarium tertentu.

Kapan Harus Segera ke Dokter

Segera lakukan pemeriksaan apabila nyeri saat berhubungan disertai:

- Perdarahan setelah berhubungan.

- Demam.

- Keputihan berbau menyengat.

- Nyeri panggul yang berat.

- Sulit melakukan penetrasi.

- Keluhan yang menetap meskipun telah menggunakan pelumas.

Dampak terhadap Keharmonisan Pasangan

Dispareunia tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga kualitas hubungan suami istri. Rasa takut akan nyeri dapat membuat seseorang menghindari hubungan intim, menurunkan kepercayaan diri, memicu stres, hingga menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Komunikasi yang terbuka dengan pasangan dan penanganan medis yang tepat merupakan langkah penting untuk mengatasi masalah ini.

Kesimpulan

Dispareunia merupakan kondisi medis yang dapat ditangani apabila penyebabnya diketahui dengan tepat. Jangan menganggap nyeri saat berhubungan intim sebagai sesuatu yang wajar atau harus ditahan. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menemukan penyebab, memberikan terapi yang sesuai, serta meningkatkan kualitas hidup dan keharmonisan pasangan.

Referensi

- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). When Sex Is Painful (Dyspareunia).

- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Your Sexual Health.

- Mayo Clinic. Painful intercourse (dyspareunia): Diagnosis and treatment. 2024

- ACOG Practice Bulletin No. 224. Diagnosis and Management of Vulvar Skin Disorders.

© 2026 DSR / MitraMedic

Kembali ke Artikel
Konsultasi