Lewati ke konten
Kesehatan Reproduksi Wanita

Abortus (Keguguran): Penyebab, Gejala, Jenis, Penanganan, dan Cara Mencegahnya

Tim MitraMedic 1 Agu 2026

Abortus atau keguguran merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang paling sering terjadi, terutama pada trimester pertama. Kondisi ini dapat menimbulkan dampak fisik maupun emosional bagi ibu dan keluarga. Meski demikian, tidak semua perdarahan saat hamil berarti keguguran, dan tidak semua keguguran dapat dicegah.
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), sekitar 10–20% kehamilan yang telah terkonfirmasi secara klinis berakhir dengan keguguran, sementara angka sebenarnya diperkirakan lebih tinggi karena banyak kehamilan berhenti berkembang sebelum disadari.
Memahami penyebab, gejala, jenis, dan penanganan abortus dapat membantu ibu hamil mendapatkan pertolongan medis yang tepat serta meningkatkan peluang kehamilan berikutnya.

Apa Itu Abortus?

Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin mampu hidup di luar rahim, yang umumnya terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu atau ketika berat janin kurang dari 500 gram.
Sebagian besar keguguran terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan dan sering kali disebabkan oleh kelainan kromosom yang terjadi secara spontan. Hal ini bukan kesalahan ibu dan biasanya tidak berhubungan dengan aktivitas sehari-hari seperti berjalan, bekerja ringan, atau berhubungan seksual pada kehamilan normal.

penyebab abortus keguguran

Faktor Risiko Penyebab Abortus

Abortus dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:

1. Kelainan Kromosom Janin

Sekitar 50–60% keguguran trimester pertama disebabkan oleh kelainan kromosom yang terjadi secara acak saat proses pembuahan.

2. Usia Ibu

Risiko keguguran meningkat pada:

  • Usia di bawah 20 tahun
  • Usia di atas 35 tahun
  • Terutama di atas 40 tahun
    Hal ini berkaitan dengan meningkatnya risiko kelainan kromosom pada sel telur.

3. Kelainan Rahim

Misalnya:
- Septum uterus
- Mioma yang mengganggu rongga rahim
- Sindrom Asherman
- Kelainan bentuk rahim bawaan

4. Gangguan Hormonal

Contohnya:
- Diabetes yang tidak terkontrol
- Gangguan tiroid
- Sindrom ovarium polikistik (PCOS)
- Defisiensi progesteron pada kondisi tertentu

5. Infeksi

Beberapa infeksi dapat meningkatkan risiko keguguran, seperti:
- Rubella
- Listeriosis
- Sifilis
- Toksoplasmosis
- Malaria pada daerah endemis

6. Penyakit Autoimun

Terutama:
- Antiphospholipid Syndrome (APS)
- Lupus Eritematosus Sistemik (SLE)

7. Gaya Hidup

Risiko meningkat pada ibu yang:
- Merokok
- Mengonsumsi alkohol
- Menggunakan narkotika
- Mengonsumsi kafein dalam jumlah berlebihan
- Memiliki obesitas

Abortus keguguran kehamilan

Gejala Abortus

Gejala yang sering ditemukan meliputi:

- Perdarahan dari vagina

- Kram atau nyeri perut bawah

- Nyeri pinggang

- Keluar jaringan dari vagina

- Berkurangnya gejala kehamilan (misalnya mual tiba-tiba menghilang)

- Kontraksi rahim

Namun perlu diingat, tidak semua perdarahan saat hamil berarti keguguran. Oleh karena itu, pemeriksaan oleh dokter kandungan sangat penting.

Jenis-Jenis Abortus

1. Abortus Imminens (Ancaman Keguguran)

Ditandai dengan perdarahan ringan tetapi leher rahim masih tertutup dan janin masih hidup. Pada kondisi ini, kehamilan masih berpotensi dipertahankan.

2. Abortus Insipiens

Perdarahan semakin banyak disertai pembukaan leher rahim. Proses keguguran sedang berlangsung dan umumnya sulit dihentikan.

3. Abortus Inkomplet

Sebagian jaringan kehamilan telah keluar, namun masih ada jaringan yang tertinggal di dalam rahim sehingga memerlukan evaluasi lebih lanjut.

4. Abortus Komplet

Seluruh jaringan kehamilan telah keluar dari rahim sehingga biasanya tidak diperlukan tindakan tambahan apabila rahim sudah bersih.

5. Missed Abortion

Janin telah meninggal di dalam rahim tetapi belum keluar secara spontan. Kondisi ini biasanya diketahui melalui pemeriksaan USG.

6. Abortus Septik

Keguguran yang disertai infeksi serius. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis yang memerlukan penanganan segera.

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis?

Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti:

- Wawancara mengenai keluhan

- Pemeriksaan fisik

- Pemeriksaan dalam bila diperlukan

- Ultrasonografi (USG)

- Pemeriksaan kadar β-hCG

- Pemeriksaan darah bila diindikasikan

- USG merupakan pemeriksaan utama untuk menentukan apakah janin masih berkembang, lokasi kehamilan, serta jenis abortus.

Penanganan Abortus

Penanganan tergantung pada jenis abortus dan kondisi ibu.

1. Observasi (Expectant Management)

Pada beberapa kasus, jaringan kehamilan dapat keluar sendiri tanpa tindakan medis.

2. Terapi Obat

Obat seperti misoprostol, dengan atau tanpa mifepristone sesuai indikasi, dapat digunakan untuk membantu pengeluaran jaringan kehamilan. Penggunaannya harus sesuai petunjuk dokter.

3. Tindakan Evakuasi Rahim

Jika terdapat jaringan yang tertinggal atau terjadi perdarahan hebat, dokter dapat melakukan:

  • Aspirasi vakum
  • Dilatasi dan kuretase (D&C)

Pemilihan metode bergantung pada kondisi klinis pasien dan rekomendasi dokter.

4. Penanganan Infeksi

Pada abortus septik diperlukan antibiotik intravena dan evakuasi rahim segera.

Apakah Abortus Bisa Dicegah?

Tidak semua keguguran dapat dicegah, terutama yang disebabkan oleh kelainan kromosom. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu menurunkan risikonya:

- Konsumsi asam folat minimal 400 mcg per hari sebelum hamil dan selama trimester pertama.

- Kendalikan diabetes dan gangguan tiroid.

- Berhenti merokok dan menghindari alkohol.

- Pertahankan berat badan ideal.

- Lakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.

- Segera obati infeksi sebelum dan selama kehamilan.

- Konsultasikan dengan dokter bila pernah mengalami keguguran berulang.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera cari pertolongan medis apabila mengalami:

- Perdarahan banyak hingga harus mengganti pembalut setiap ≤1 jam.

- Nyeri perut hebat.

- Keluar jaringan dari vagina.

- Demam ≥38°C.

- Keputihan berbau tidak sedap.

- Pusing berat atau pingsan.

Penanganan dini dapat mencegah komplikasi yang lebih serius.

Apakah Masih Bisa Hamil Lagi Setelah Abortus?

Kabar baiknya, sebagian besar wanita tetap dapat memiliki kehamilan yang sehat setelah mengalami satu kali keguguran. Risiko keguguran berulang meningkat bila keguguran terjadi dua hingga tiga kali atau lebih, sehingga diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk mencari penyebab yang mendasarinya.

Dukungan emosional juga sangat penting. Rasa sedih, kecewa, atau kehilangan merupakan respons yang wajar. Jangan ragu untuk berdiskusi dengan pasangan, keluarga, maupun tenaga kesehatan apabila membutuhkan bantuan.

Kesimpulan

Abortus atau keguguran merupakan komplikasi kehamilan yang cukup sering terjadi, terutama pada trimester pertama. Penyebab tersering adalah kelainan kromosom janin, tetapi berbagai faktor lain seperti penyakit ibu, kelainan rahim, infeksi, dan gaya hidup juga dapat berperan. Mengenali gejala sejak dini serta segera berkonsultasi dengan dokter dapat membantu menentukan penanganan yang paling tepat dan mengurangi risiko komplikasi.
Meskipun tidak semua keguguran dapat dicegah, menjalani gaya hidup sehat, mengonsumsi asam folat, mengendalikan penyakit kronis, dan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin merupakan langkah penting untuk mendukung kehamilan yang sehat.

Referensi:

- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Early Pregnancy Loss. Practice Bulletin No. 200 (reaffirmed and updated).
- Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). The Management of Early Pregnancy Loss. Green-top Guideline.
- World Health Organization (WHO). Abortion Care Guideline. 2022.
- European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE). Guideline on Recurrent Pregnancy Loss. 2023.
- Cunningham FG, et al. Williams Obstetrics. 27th Edition. McGraw-Hill.
- Berek JS. Berek & Novak's Gynecology. 16th Edition. Wolters Kluwer.

© 2026 DSR / MitraMedic

Kembali ke Artikel
Konsultasi